My Journey - The Beginning


The Beginning

Ini semua tentang keindahan dunia dan alam semesta. Dimana ada satu orang yang mengharapkan keajaiban terjadi dihidupnya untuk selamanya. Banyak orang yang butuh keajaiban dihidupnya, tapi banyak juga orang yang tidak percaya keajaiban terjadi dihidupnya. Kali ini aku akan menceritakan tentang apa yang sudah terjadi dihidupku.
Aku adalah seorang yang biasa saja, tidak mempunyai keistimewaan dari diriku. Wajah ku biasa saja, pendek,hitam,dan tak punya apa-apa. Semua berawal dari aku mau masuk kuliah. Setelah lulus dari SMK aku sebenarnya aku tidak berniat untuk mencari sebuah perkuliahan atau meneruskan ke universitas, tetapi orang tuaku mempunyai keinginan untuk menguliahkan aku.
Dengan keinginan orang tuaku yang sangat ambisius agar anaknya kuliah, terpaksa aku tidak bisa melawan hal itu. Aku mulai mencari universitas, awalnya aku bingung aku mau meneruskan ke universitas mana. Aku tanya teman-temanku yang kuliah ataupun yang sudah lulus kuliah agar aku punya referensi tentang perkuliahan ataupun tentang penjurusan. Ada satu orang tempat berbagiku, mungkin aku sudah menganggap beliau adalah paman. Aku bercerita tentang keluh kesahku selama ini tentang apa yang diinginkan orang tuaku dan apa yang aku inginkan, beliau memberikan masukan positif terhadap kedua hal yang ku ceritakan. Disini aku mulai menemukan apa yang aku suka yaitu memasak. Tetapi aku bingung mau ngomong ke orangtua aku, aku takut jika mereka memarahiku dan tetap memaksa kuliah, jadi aku memilih untuk tidak ngomong ke orangtuaku.
Kuterima saja keinginan orang tuaku, dengan melupakan hal yang kusuka. Tidak lama aku mencari universitas, berbagai universitas aku daftar. Mengikuti tes disetiap universitas yang aku daftar. Alhasil aku tidak keterima di berbagai universitas yang aku daftar, mungkin aku kurang rajin atau kurang pengetahuan, karena aku merasa tes ujiannya jauh sekali dengan yang telah diajarkan di SMKku. Tetapi orang tuaku tetep berusaha mencarikan universitas dan ketemu, dimana universitas itu sudah memasuki pendaftaran terakhir dan aku didaftarkan orang tuaku. Dan ujian tesnya adalah sehari setelah pendaftaran.
Di malam hari sebelum tes, orang tuaku saling cek cok tentang hubungan mereka. Ya mungkin sedikit cerita keluargaku bisa dikatakan broken home, mungkin aku akan menceritakan dilain kesempatan. Malam itu jam 23.00 aku berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti tes di universitas yang telah orang tuaku daftarin buat aku, aku dan ayahku menunggu jemputan bis malam. Tetapi diposisi itu ayahku tidak memegang uang sepeser pun karena uang ayahku dipegang sama ibuku, dan ibuku tidak memberikan uang untuk berangkat, lalu ayahku memutuskan untuk meminjam temannya, pikirku tidak banyak yang dipinjam ayahku.  Tak lama bis datang dan kita naik bis, kita sampai tujuan jam 08.00 pagi sedangkan tesku jam 13.00, mau tidak mau harus menunggu jam 13.00 . Diselang waktu menunggu jam tes mulai, ayahku sempat bertanya tentang apa yang sebenarnya aku pengenin. Disitu aku mencoba jujur, dan akhirnya aku jujur. Aku kaget disitu, karena ayahku justru mendukung apa yang aku suka, tetapi aku takut dengan ibuku yang punya keinginan untuk aku kuliah.
Waktu begitu tak terasa lama aku dan ayahku sudah menunggu sampai jam 13.00, lalu aku dan ayahku mencari ruangan untuk menjalani tes tersebut. Tak lama ayahku tanya kepada salah satu pegawai disitu dan beliau mengarahkan jalan untuk ke ruangan tes tersebut. Waktu tes mulai, ku awali dengan berdoa setelah itu ku mengajarkan tes yang ada dihadapanku. Setelah mengerjakan tes aku dan ayahku berniat untuk langsung pulang, aku dan ayahku naik bis dari Jogja sekitaran jam 16.00. Perkiraan ayahku, kita bisa sampai rumah pukul 23.00 tetapi karena bis yang kami naiki terjebak macet jadi kita tidak bisa sampai rumah sesuai dengan perkiraan ayahku. Ketika bis sampai diterminal terakir, ayahku langsung mencari bis lain yang mengarah pulang kerumahku. Tetapi nasib tidak dipihak kita, bis yang mengarah rumah kita terakhir berangkat jam 22.00 sedangkan ayahku dan aku sampai di terminal terakhir pada jam 23.00.
Lantas ayahku mencoba mencari tumpangan orang untuk bisa pulang kerumah, disaat itu ayahku hanya punya uang sedikit sekali jadi sedikit kemungkinan ayahku bisa membayar tumpangn yang kami tumpangi. Tak lama ada mobil berhenti didepan ayahku, dan kami mendapatkan tumpangan. Ngomong –ngomong jarak antara terminal terakhir dengan rumahku itu 64KM bisa dikatakan lumayan jauh. Satu setengah jam perjalanan terlampaui dan kita sampai tujuan, dan ayahku cuma bisa membayar 50.000 kepada orang yang kami tumpangi, untung saja beliau masih mau menerimanya. Besoknya adalah hari pengumuman tes, disitu aku terkejut karena aku diterima di universitas itu. Disaat itu aku bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan sudah banyak memberikan keringanan kepadaku. Dia telah memberikan apa yang layak diberikan kepadaku, Dia yang memberikan rancangan yang indah untukku. 

Dan aku percaya, Tuhan tidak pernah memberikan hal yang diluar kemampuan kita, kita bisa berusaha dan tidak lupa untuk berdoa.


Semoga Bermanfaat :)
 @siloemba

Comments

Post a Comment